Oleh: Hariqo Satria, Penulis Buku Seni Mengelola Tim Media Sosial, CEO Global Influencer School dan Komunikonten.
PERSDA.COM – Saya tersentak ketika pakar branding Yuswohady, menyebut “SAMPAH VISUAL” untuk poster dari para Bacaleg.
Padahal isi posternya, ucapan selamat kepada Timnas U-22 yang berhasil mengalahkan Thailand dalam Final menegangkan pada Sea Games 2023 di Kamboja.
ADVERTISEMENT
Baca Juga:
Sembilan Obat Bahan Alam Terungkap oleh BPOM Mengandung Kimia Berbahaya
Dari Air Hitam Sampai Dokumen Gaib: Warga Penghuni Puri Park View Mengadu ke Kantor Presiden
Forum Purnawirawan TNI Kirim Surat Pemakzulan Gibran Rakabuming, Jokowi: Biasa dalam Demokrasi

SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang Timnas Taklukkan Thailand loh, negara dengan sepakbola terkuat di Asia Tenggara, kita hajar 5-2,
Saya tidak setuju dengan Yuswohady. “Tolong jangan komen sebelum tuntas membaca alasan saya di bawah”.
Tapi sebaiknya teman-teman cermati dulu pendapat Yuswohady, yang diunggah di instagram pada 17 Mei 2023.
Baca Juga:
Polda Metro Tanyai Rismon Tentang YouTube Balige Academy dan Analisis Ijazah Jokowi
Ketua DPR Puan Maharani Minta Pemerintah Bubarkan Ormas Premanisme di Indonesia
Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri Absen di Sarasehan BPIP, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Berikut saya salin tempel (copy paste) tulisan dari akun @Yuswohady:
KEGAGALAN PERSONAL BRANDING CALEG. Menurut saya, ucapan2 selamat kemenangan Timnas sepak bola SEA Games ini adalah KEGAGALAN personal branding mereka.
Start with WHY… Kenapa sih sering banget para caleg ini nampang di baliho, flyer, video TikTok, or carousel IG kalau ada Timnas menang.
Jawabannya;
Baca Juga:
Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Tanggapi Tuduhan Kartel Bunga Pinjaman
4 Sikap Presiden Prabowo Subianto Jadi Sorotan, Keberpihakan Pemerintah terhadap Buruh Diapresiasi
Lakukan Perbaikan Citra dan Pulihkan Nama Baik, Beginilah 5 Jalan yang Dilakukan oleh Press Release
PERSONAL BRAND nya kosong: kosong
COMPETENCE + kosong CHARACTER + kosong
VALUE PROPOSITION + Minim
POPULARITY + LIKEBILITY + ELECTABILITY + Defisit
KREATIVITAS alias semua fotonya MENGEPALKAN tangan 🤣🤣 + …and …Rodo NORAK 🙈..
Tapi nggak papa untuk lucu-lucuan Road to 2024 💪💪💪.
Catatan: kata “SAMPAH VISUAL” disampaikan Yuswohady di kolom komentar postingannya.
Sekali lagi, saya tidak setuju dengan Yuswohady, berikut lima alasannya:
Portal berita ini menerima konten video dengan durasi maksimal 30 detik (ukuran dan format video untuk plaftform Youtube atau Dailymotion) dengan teks narasi maksimal 15 paragraf. Kirim lewat WA Center: 085315557788.
Pertama, kita tidak bisa menyimpulkan, bahwa seorang Bacaleg minim popularitas, likeabilitas, elektabilitas, kecuali setelah melakukan riset di dapil (daerah pemilihan) Bacaleg.
Nah Dapil itu sudah ditetapkan oleh KPU. Sangat mungkin, seorang Bacaleg DPRD yang menurut Yuswohady minim popularitas, ternyata sangat terkenal dan mengakar* di dapilnya.
Kedua, setiap orang, termasuk Bacaleg punya modal kompetensi, karakter, personal brand dan value proposition.
Jadi tidak kosong, kosong, kosong seperti kata Yuswohady. Poster dari para Bacaleg itu adalah jawaban atas pertanyaan masyarakat “Caleg kita siapa neh.
Ini kan cara tercepat membuat konten yang diharapkan masyarakat, hemat, ketimbang pasang iklan di koran setempat, ya kalau dapat tempat.
Tapi saran saya, kalau isi posternya hanya ucapan selamat dengan mengepalkan tangan alias kurang kreatif, sebaiknya diposting tepat setelah wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir, seperti kata pepatah “Sedia poster sebelum hujan poster.”
Namun kalau telat juga tidak apa-apa kok, karena pasti ada saja orang yang mampir melihat akun kita.
Ketiga, saudara kita para Bacaleg itu juga punya pengikut, pendukung di media sosial dan di daerahnya masing-masing.
Poster ucapan selamat tersebut, merupakan cara sosialisasi, juga edukasi cinta tanah air kepada pendukung mereka.
Mungkin bagi mereka yang usianya 30 tahun ke atas, poster ucapan selamat pada Timnas biasa saja.
Tapi bagi yang berusia 13 – 30 tahun, poster yang dianggap “sampah visual” oleh Yuswohady, bisa jadi motivasi untuk ikut sekolah sepakbola (SSB), lebih giat berlatih dan disiplin, agar bisa mengharumkan nama Indonesia lewat olahraga.
Keempat, setelah 32 tahun menanti sejak 1991, sedih Timnas kalah di Final Sea Games 2011, 2013 dan 2019.
Maka kemenangan Timnas ini terasa begitu emosional, pertandingannya sangat super menegangkan, dan yang dikalahkan oleh Timnas Indonesia U-22 itu adalah Thailand.
Disitulah, saya merasa waktu postingan Yuswohady kurang pas. Justru energi positif dari keberhasilan Timnas U-22, perlu terus digaungkan oleh siapa pun.
Bisa dengan membuat konten, membagikan konten orang, berkomentar, like, love, apa pun lah.
Kelima, menurut saya, siapa pun Anda, entah Bacaleg, pelaku UMKM, konten kreator, silahkan saja memanfaatkan momentum kemenangan Timnas U-22 untuk mengenalkan diri, melariskan dagangan, membuat patung, mural, film dll.
Lakukan kritik Yuswohady soal kreatifitas, sering-sering melihat konten orang lain untuk meningkatkan imajinasi dan daya khayal, pelajari copy writing, editing serta bentuk tim media sosial.
Abaikan mereka yang bilang pansos, norak, lu yang norak. Terkadang mereka yang menuding pencitraan, sebenarnya juga sedang melakukan pencitraan.
Mari budayakan mengucapkan selamat untuk sebuah prestasi anak bangsa.
Jangan korupsi kalau terpilih jadi anggota DPRD, DPR, DPD, dan harus lebih aktif dari netizen dalam melakukan pengawasan.**
































