PERSDA.COM – Jika mau berenang atau bermain – main di pantai selatan Pulau Jawa jangan memakai pakaian bewarna hijau karena bisa mendapat musibah.
Kata sahibulhikayat, hijau adalah warna kesukaan Nyai Roro Kidul.
Pada 1965 ada pejabat tinggi kedubes Bulgaria utk RI meninggal karena terseret arus ombak di pantai Pelabuhan Ratu, Sukabumi – Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
Baca Juga:
Sembilan Obat Bahan Alam Terungkap oleh BPOM Mengandung Kimia Berbahaya
Dari Air Hitam Sampai Dokumen Gaib: Warga Penghuni Puri Park View Mengadu ke Kantor Presiden
Forum Purnawirawan TNI Kirim Surat Pemakzulan Gibran Rakabuming, Jokowi: Biasa dalam Demokrasi

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ternyata pejabat ini memakai pakaian dalam bewarna hijau.
Karena peristiwa ini Dubes AS utk RI waktu itu – Marshall Green tak berani bermain – main di pantai selatan.
Sehingga ia kadang menolak ajakan Presiden Sukarno bertandang ke Pelabuhan Ratu.
Baca Juga:
Polda Metro Tanyai Rismon Tentang YouTube Balige Academy dan Analisis Ijazah Jokowi
Ketua DPR Puan Maharani Minta Pemerintah Bubarkan Ormas Premanisme di Indonesia
Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri Absen di Sarasehan BPIP, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
“Jangan – jangan nama saya yang green, hijau memikat Ratu Kidul. Saya masih ingin bermain – main di Pantai Florida,” kata Green. Kisah ini disampaikan pelukis – Basoeki Abdullah.
Masih banyak kisah menarik perihal kehidupan pelukis tersohor ini yang dapat kita baca dalam buku berjudul “Basoeki Abdullah: Sang Hanoman Keloyongan”.
Ini biografi Basoeki yang ditulis Agus Dermawan T.
Biografi ini pertama kali terbit pada Agustus 2015. Juli 2023 Kepustakaan Populer Gramedia menerbitkan cetakan kedua buku ini.
Baca Juga:
Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Tanggapi Tuduhan Kartel Bunga Pinjaman
4 Sikap Presiden Prabowo Subianto Jadi Sorotan, Keberpihakan Pemerintah terhadap Buruh Diapresiasi
Lakukan Perbaikan Citra dan Pulihkan Nama Baik, Beginilah 5 Jalan yang Dilakukan oleh Press Release
Dengan ditambah cerita – cerita dan foto lukisan yang tak ada dalam cetakan pertama.
Oleh: Tonnio Irnawan, mantan wartawan Persda, Kelompok Kompas Gramedia.***




























