PERSDA.COM – Kekeringan mulai melanda sebagian wilayah di Jawa Tengah, beberapa kabupaten sudah mulai melaporkan adanya krisis air bersih.
Berikut ini data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah.
1. Kabupaten Klaten
Adapun laporan yang pertama, bencana kekeringan telah dirasakan oleh warga Desa Kendalsari, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten.
Baca Juga:
Inilah Momen Paus Fransiskus Keliling Sapa Umat Naik Maung Tangguh Besutan Prabowo Subianto
Sebanyak 4.360 warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih.
Baca artikel menarik lainnya, di sini: Sebanyak 7.739 Jiwa Terdampak Kekeringan di Cilacap, Pemerimtah Bentuk Satgas Terpadu
Sebagai upaya antisipasi dan penanganannya, BPBD Kabupaten Klaten telah mendistribusikan air bersih menggunakan mobil tanki hingga 30.000 liter.
2. Kabupaten Magelang
Baca Juga:
Laporan kedua kekeringan melanda wilayah Desa Bulurejo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang.
Sebanyak 234 warga kesulitan air bersih. BPBD Kabupaten Magelang telah mengirim pasokan air bersih hingga 10.000 liter.
3. Kota Semarang
Kekeringan selanjutnya juga dirasakan oleh 1.460 warga Kelurahan Jabung, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.
Baca Juga:
Perkuat Komunikasi Kebijakan Pemerintah, APPRI Dukung Terbentuknya Kantor Komunikasi Kepresidenan
Tanggapi Pertanyaan Wartawan Seputar Reshuffe Kabinet, Menteri ESDM Arifin Tasrif: Tunggu Saja
BPBD Kota Semarang telah mengirimkan air bersih hingga 10.000 liter.
4. Kabupaten Grobogan
Adapun sebanyak 150 warga Desa Pojok, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan mulai merasakan kelangkaan air bersih.
BPBD Kabupaten Grobogan telah mendistribusikan air bersih hingga 10.000 liter.
Portal berita ini menerima konten video dengan durasi maksimal 30 detik (ukuran dan format video untuk plaftform Youtube atau Dailymotion) dengan teks narasi maksimal 15 paragraf. Kirim lewat WA Center: 085315557788.
Peluang curah hujan sebagian besar wilayah di Jawa Tengah, dilaporkan sangat rendah dengah prakiraan kurang dari 90 persen atau di bawah 50 mm hingga dasarian 3 Juli 2023 mendatang.
Hal itu berdasarkan informasi prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Stasiun Klimatologi Kelas I Semarang
Di samping itu, sebelumnya BMKG juga menyatakan bahwa musim kemarau di tahun ini akan lebih panjang dari periode sebelumnya karena ada fenomena El-Nino.
Selain kekeringan, BMKG juga mengatakan bahwa musim kemarau tahun ini dapat memicu terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan.
Dihimbau kepada masyarakat agar dapat menghemat dan mengelola penggunaan air dengan baik.
Sebagai upaya antisipasi dalam menghadapi potensi bencana kekeringan selama musim kemarau.
Di samping itu, warga juga diharapkan dapat melalukan perbaikan lingkungan dengan menanam pohon.
Membangun atau merehabilitasi jaringan irigasi, melakukan perlindungan kepada sumber air bersih yang tersedia dan panen hujan serta konservasi air.
Pemerintah daerah yang memerlukan dukungan pengisian waduk, danau dan embung bisa mengusulkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) kepada BNPB yang didahului dengan penetapan status siaga atau tanggap darurat kekeringan.***