PERSDA.COM – Informasi bahwa toko Gunung Agung menutup semua tokonya beredar sejak 2 – 3 bulan. Informasi ini ramai di media sosial.
Tak banyak netizen yang mengomentari. Nitizen yang kebanyakan Gen Milenial dan Gen z masa bodoh.
Saya duga mayoritas mereka tidak kenal Gunung Agung. Kalau tahu, biarkan karena yang tutup hanya toko buku.
ADVERTISEMENT
Baca Juga:
Sembilan Obat Bahan Alam Terungkap oleh BPOM Mengandung Kimia Berbahaya
Dari Air Hitam Sampai Dokumen Gaib: Warga Penghuni Puri Park View Mengadu ke Kantor Presiden
Forum Purnawirawan TNI Kirim Surat Pemakzulan Gibran Rakabuming, Jokowi: Biasa dalam Demokrasi

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di negeri ini tak ada orang sedih mengetahui ada toko buku tutup karena bangkrut. Bagi mereka di zaman digital sudah layak dan sepantasnya, toko buku mampus.
Senin atau kemarin dulu saya menerima video WA yang sama dari 9 teman tentang Gunung Agung yang akan memberikan diskon besar – besar sampai 31 Agustus 2023.
Narator video tsb menyebutkan meski begitu toko tetap sepi. Gambar di video memperkuat narasi.
Baca Juga:
Polda Metro Tanyai Rismon Tentang YouTube Balige Academy dan Analisis Ijazah Jokowi
Ketua DPR Puan Maharani Minta Pemerintah Bubarkan Ormas Premanisme di Indonesia
Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri Absen di Sarasehan BPIP, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Hati saya tergerak Selasa sore (kemarin) usai jam kantor ingin datang ke sana bukan karena ada diskon.
Saya ke sana bermaksud memberikan penghormatan terakhir padanya. Ia telah memberikan jasa kepada saya.
Sebelum Kompas membuka toko buku Gramedia, saya sering membeli buku di Gunung Agung (toko yg lama pas dibelokan Jalan Senin Raya – Jalan Kwitang), Jakarta.
Karena banyak pembeli, dibuka toko yang lebih besar kurang lebih 1 km dari toko lama.
Baca Juga:
Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Tanggapi Tuduhan Kartel Bunga Pinjaman
4 Sikap Presiden Prabowo Subianto Jadi Sorotan, Keberpihakan Pemerintah terhadap Buruh Diapresiasi
Lakukan Perbaikan Citra dan Pulihkan Nama Baik, Beginilah 5 Jalan yang Dilakukan oleh Press Release
Toko yg lebih bagus ini masih di Jalan Kwitang, sebelah Kali Ciliwung dekat Patung Pak Tani.
Kurang lebih pukul 3 sore istri yang tahu saya akan ke Gunung Agung mengirim video dari Tribune.
Video memperlihatkan kemacetan jalan karena antrean mobil menuju Gunung Agung. Karena begitu ramainya manusia di dalam, petugas memberlakukan sistem buka tutup toko.
Karena inilah saya urung datang dan berjanji sore ini akan ke sana.
Portal berita ini menerima konten video dengan durasi maksimal 30 detik (ukuran dan format video untuk plaftform Youtube atau Dailymotion) dengan teks narasi maksimal 15 paragraf. Kirim lewat WA Center: 085315557788.
Baru satu jam lalu teman saya dari Bogor naik kereta api tiba di Gunung Agung.
Ternyata tidak diperkenankan masuk karena calon pembeli sulit bergerak dalam toko. Orang – orang yang baru datang dipersilakan kembali esok pagi pukul 10.00 WIB.
Teman saya kecewa karena tak dapat menikmati diskon. Akhirnya ia ke Cikini menikmat es krim Tjanang yang telah berjualan sejak 1951.
Menurut info yang saya ketahui, kebanyakan yang datang bukan untuk membeli buku.
Melainkan barang – barang seperti tas, koper, printer, komputer, perlengkapan administrasi kantor, dan lain – lain yang harganya dibanting.
Ya begitu nasib buku yang semakin ditelan oleh internet. Bukankah sekarang apa – apa tanya Si Google, sehingga ada kelakar jika dulu ada sarjana diktat kini ada sarjana google.
Di mana – mana perilaku kita sama: senang banget berburu diskon.
Barang yang belum diperlukan tetap diburu mumpung ada diskon. Celakanya orang berduyun – duyun ke toko buku saat toko tengah sekarat. RIP.
Oleh: Tonnio Irnawan, mantan wartawan Persda, Kelompok Kompas Gramedia.***
































